Tampilkan postingan dengan label edu-dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edu-dunia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2014

Absen Kelas Ku

Bahan2 :

1. Karton Asturo atau kertas lain
2. Gunting
3. Pensil untuk membuat gambar
4. Lem
5. Stik es krim
6. Foto anak ukuran 2x 3

Caranya

1. Buat gambar (bebas), kalau bisa dengan   ukuran besar dan disesuaikan.
2. Gabung karton asturo dengan lem
3. Tempel gambar yang sudah dibuat
4. Buat kotak kecil dengan kertas (seperti     saku baju) sesuai jumlah anak.
5. Sebelumnya foto anak ditempel di ujung stik es krim.
6. Jika semua sudah siap, letakkan absen stik es krim-anak di kotak kotak yang berbentuk saku tadi.




Arza-mee' 

Gambar =sumber lain/google
  Cara menggunakan absen =dosen saya di propram ppl kampus





Senin, 28 April 2014

Melukis dengan Lilin


Melukis dengan Lilin

Persiapkan Alat-alat

1. Kertas HVS bergambar (Gambar bebas, contoh balon)
2. Krayon
3. Korek Api
4. Lilin

Caranya:

1. Warnai gambar balon (warna-warni)

2. Setelah selesai dengan warna dasar warna warni, di warnai kembali warna hitam.

3. Gunting gambar balon yang telah di warnai.

4. Terakhir teteskan lilin yang telah menyala secara acak agar membentuk polkadot

5. Setelah itu, copot semua tetesan lilin yang telah mengering.

Lukisan bentuk balon ini bisa di kreasikan menjadi balon 3 dimensi dengan membuat cetakan balon untuk sisi satunya dari kertas lain seperti kertas manila. Lem bagian pinggirnya (Bisa dengan double-tape). Lalu masukkan koran ke dalamnya. Terakhir hias dengan pita di bagian bawahnya.

Catatan: Untuk pembelajaran di Taman Kanak-kanak, anak bisa mengerjakan dengan mewarnai dan meneteskan lilin. Sisanya dibuat dan dilakukan oleh guru



Selamat mencoba!!



Arza-Mee' dan Berbagai sumber



Minggu, 27 April 2014

A Short Story of Mine

Sebelumnya saya pernah punya seorang teman yang berasal dari negara sebelah. Setiap kami 'chatting' via messenger, tidak bosan saya bertanya seputar 'issues' sekitar. Hingga terjadilah diskusi yang sehat dan mengasyikkan. Terkadang saya belajar kepadanya bagaimana menggunakan kalimat dalam bahasa Inggris dengan benar. Karena saya selalu kesulitan melakukannya. Dengan senang hati dia meladeni permintaan 'belajar private' gratis via messenger tersebut. 

Dan ini cerita masa kecil saya yang telah di translate ke dalam bahasa Inggris.


Here's my short story. 

Many years back during my childhood time, in my village. I always remember all those sweet memories about my life. When i was around 6 years old, i lived in the middle class home. It was not huge and not too small either. But my family and me lives comfortably there, and there's a padi field around where i lived, and on the right side of my house, there's a river and the water is very clear. I could even saw small shrimps and small fishes swimming. 

I called (or Indonesian called) the fish as 'JEPI'. I had to swim and find the shrimps and the fishes and i got my clothes wet as i swam in. That was the time i've been waiting for. I love to run and jump far to swim from the river bank and off course i am not all alone. I was with a few of my friends, and we did it together. 

Etc

I guess, that all i could share with you for now. Once you had read through, please give me feedback or point(s).



Rencananya sih, saya ingin sekali membukukan cerita masa kecil saya ini menjadi buku cerita anak. Doain ya..!!

Dan ingin banget mengucapkan terima kasih kepada teman saya di manapun kamu berada sekarang.Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan amal saleh setiap perbuatan baik kita, aamiin.

Special for Mohamed Mikail or Rave. Peace ^^


Selasa, 28 Januari 2014

Gejala On and Off Pada Anak

Salah satu gejala yang sering kita jumpai pada anak adalah gejala on and off. Menurut penuturan ayah Edy yang dimaksud gejala on and off adalah kondisi dimana si anak cenderung aktif jika di rumah tetapi jika di sekolah berubah menjadi pasif. Atau sebaliknya, jika di rumah dia menjadi anak yang duduk manis dan pendiam, tetapi jika di sekolah dia menjadi anak yang aktif dan dinamis, itulah salah satu contoh gejala on and off.


Contoh lain, jika salah satu orangtua sedang pergi, si anak menjadi aktif dan kreatif. Namun, jika tiba-tiba salah satu dari orangtuanya pulang ke rumah, mereka segera berubah menjadi pasif dan tidak kreatif lagi. Ini juga termasuk gejala on and off.


Jadi, gejala on and off terjadi jika di satu lingkungan atau kondisi, anak kita aktif, tetapi di lingkungan atau kondisi lainnya tiba-tiba dia berubah menjadi pasif atau acuh-acuh. Sebagian orangtua secara awam sering menyebut anaknya "jago kandang".


Sesungguhnya perilaku anak yang sehat adalah on and on, artinya di mana pun dia berada selalu dalam kondisi sama, mirip handphone yang kita miliki Jika handphone yang kita gunakan tiba-tiba mati tanpa sebab padahal baterainya masih penuh, biasanya ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya. Begitu pula dengan anak kita. Jika tiba-tiba saja perilakunya berubah tidak seperti biasanya, pasti ada yang tidak beres dengan orang-orang di sekitarnya dalam memperlakukan dirinya sehingga dia meresponsnya dengan meng-off-kan dirinya sendiri.


Misalnya ayahnya keras, tetapi ibunya lembut; ibunya perfeksionis sementara ayahnya cenderung fleksibel. Bisa juga keluarganya oke, tetapi guru-guru di sekolahnya sering memarahi, menghukum atau mengucapkan kata-kata yang merendahkan harga diri si anak.


Perilaku on and off ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak, khususnya yang berhubungan dengan aspek kecerdasan dan perilaku. Anak yang sering mengalami gejala off, akan terganggu proses perkembangan potensi berpikir kretaif dan berpikir logisnya. Jika hal ini tidak segera di atasi, kelak anak yang dibesarkan dalam kondisi semacam ini akan menjadi generasi yang pasif, masa bodoh, dan tidak kritis terhadap permasalahan.


Itu sebabnya oleh software kecerdasan yang seharusnya berkembang saat dia sedang dalam kondisi on telah menjadi tumpul karena dia sering berada dalam kondisi off. Perilaku anak yang sering cenderung off ini kelak akan menyebabkan dia menjadi orang yang minder, tidak punya rasa percaya diri, temperamental, dan perilaku-perilaku buruk lainnya.


Gejala on and off inilah yang dideteksi menjadi sumber pokok munculnya perilaku bermasalah bagi anak-anak di rumah ataupun di sekolah.





sumber : Ayah Edy Punya Cerita




Jumat, 17 Januari 2014

Totto-Chan "Masukkan kembali semua!"


Totto-Chan belum pernah bekerja sekeras itu sepanjang hidupnya. Hari itu ia benar-benar sial. Dompet kesayangannya masuk ke dalam kakus! Tidak ada uang di dalamnya, tapi Totto-Chan sangat suka dompet itu. Dibawanya dompet itu kemana-mana, termasuk ke kakus. Dompet itu memang cantik, terbuat dari kain tafetta kotak-kotak merah, kuning dan hijau. Bentuknya segi empat, tipis dan dihiasi bros berbentuk anjing scotch terrier pada penutupnya yang berbentuk segitiga.


Nah, Totto-Chan punya kebiasaan aneh. Sejak kecil, setiap kali ke kakus, ia selalu mengintip ke dalam lubang setelah selesai buang air. Akibatnya, bahkan sebelum masuk ke sekolah dasar, ia telah kehilangan beberapa topi, termasuk satu yang terbuat dari jerami dan satu yang terbuat dari renda putih. Kakus, di masa itu, belum punya sistem guyur-otomatis. Di bawahnya ada semacam penampung kotoran. Tak heran jika topi-topinya tampak terapung-apung di bak penampung kotoran. Mama selalu melarang Totto-Chan mengintip ke dalam lubang kakus setelah selesai memakainya.


Hari itu, ketika Totto-Chan pergi ke kakus sebelum sekolah mulai, ia melupakan larangna mama. Sebelum menyadari apa yang sedang dilakukannya, tahu-tahu ia sudah mengintip ke dalam lubang. Mungkin karena genggamannya yang mengendor, dompet kesayangan Totto-Chan terlepas dari tangannya dan tercebur ke dalam lubang. Air pun berkecipak. Totto-Chan menjerit ketika dompetnya lenyap ditelan kegelapan di bawahnya.


Totto-Chan bertekad takkan menangis atau merelakan dompetnya hilang. Ia pergi ke gudang peralatan tukang kebun lalu mengeluarkan gayung kayu bertangkai panjang yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman. Panjang tangkai gayung itu hampir dua kali tinggi badannya, tapi itu sama sekali tidak menyurutkan tekad Totto-Chan. Ia berjalan ke belakang sekolah sambil menyeret gayung itu dan mencoba menemukan lubang itu untuk mengosongkan bak penampung kotoran. Ia menduga letaknya pasti di sisi luar dinding kakus. Setelah susah payah mencari, akhirnya ia melihat penutup lubang berbentuk bundar kira-kira satu meter dari situ. Dengan sudah payah, ia membuka penutup itu dan akhirnya menemukan lubang yang dicarinya. Totto-Chan menjulurkan kepalanya ke dalam.


"Wah, ini sama besarnya dengan kolam di Kuhonbutso!" serunya.


Kemudian Totto-Chan mulai bekerja. Ia mulai mencedok isi bak penampung kotoran itu. Mula-mula ia mengaduk-aduk tempat jatuhnya dompetnya. Tapi bak itu dalam, gelap, dan luas karena menampung buangan dari tiga kakus terpisah. Lagi pula Totto-Chan bisa jatuh ke dalam bak jika memasukkan kepalanya terlalu dalam. Akhirnya ia memutuskan untuk terus mencedoki kotoran dan berharap akan menemukan dompetnya. Begitulah, Totto-Chan mencedoki kotoran lalu menuangkannya ke tanah di sekitar lubang.


Tentu saja setiap kali mencedoki ia memeriksa kalau-kalau  dompetnya sudah terangkat bersama kotoran. Tapi ia tidak mengira akan perlu waktu lama untuk menemukan dompetnya dan sejauh ini belum ada tanda-tanda benda itu akan ditemukan. Di mana dompet itu? Bel berdering tanda kelas dimulai.


Apa yang harus kulakukan? pikir Totto-Chan. Tapi karena sudah terlanjur, ia pun memutuskan untuk melanjutkan. Gadis cilik itu meneruskan mencedok dengan semangat baru.


Tumpukan kotoran di tanah sudah cukup tinggi ketika kepala sekolah kebetulan lewat.


"Kau sedang apa?" tanyanya kepada Totto-Chan.
"Dompetku jatuh," jawab Totto-Chan, sambil terus mencedok. Ia tak ingin membuang waktu.


"Oh, begitu," kata kepala sekolah, lalu berjalan pergi, kedua tangannya bertaut di belakang punggung, seperti kebiasaannya ketika berjalan-jalan.


Waktu berlalu. Totto-Chan belum juga menemukan dompetnya. Gundukan berbau busuk itu semakin tinggi. Kepala sekolah datang lagi.


"Kau sudah menemukan dompetmu?" tanyanya.
"Belum," jawab Totto-Chan dari tengah-tengah gundukan. Keringatnya berleleran dan pipinya memerah. Kepala sekolah mendekat dan berkata ramah,
"kau akan mengembalikan semuanya kalau sudah selesai, kan?" Kemudian pria itu pergi lagi, seperti sebelumnya.


"Ya," jawab Totto-Chan riang, sambil terus bekerja. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dibenaknya. Ia memandang tumpukan itu. Kalau aku sudah aku bisa memasukkan semua kotoran itu kembali ke dalam bak, tapi bagaimana airnya?


Air kotor terserap cepat ke dalam tanah. Ttto-Chan berhenti bekerja dan mencoba memikirkan cara memasukkan air kotor kembali ke dalam bak, karena ia telah berjanji kepada kepala sekolah akan memasukkan semua kembali. Akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan tanah yang basah.


Sekarang gundukan itu benar-benar sudah menggunung dan bak penampung nyaris kosong, namun dompet Totto-Chan belum juga ditemukan. Mungkin tersangkut di pinggir bak atau tenggelam di dasar bak. Tapi Totto-Chan tidak peduli. Ia puas telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari dompet itu. Kepuasan Totto-Chan jelas adalah hasil rasa percaya diri yang ditanamkan kepala sekolah dengan mempercayainya dan tidak memarahinya. Tapi, tentu saja hal itu terlalu rumit untuk bisa dimengerti Totto-Chan saat itu.


Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-Chan dalam situasi seperti itu, akan bereaksi dengan berteriak, "Apa-apaan ini?" atau "Hentikan, itu berbahaya!" atau malah menawarkan bantuan.


Bayangkan, kepala sekolah hanya berkata, "Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai, kan?"
Sungguh kepala sekolah yang hebat, pikir mama ketika mendengarkan cerita kejadian itu dari Totto-Chan. Sejak kejadian tersebut, Totto-Chan tidak pernah lagi mengintip ke dalam lubang setelah selesai menggunakan kakus. Ia juga makin sayang dan percaya pada kepala sekolah.


Totto-Chan memenuhi janjinya. Ia memasukkan semua kembali ke dalam bak penampungan. Mengeluarkan isi bak itu sungguh kerja yang keras, tapi memasukkannya kembali ternyata jauh lebih cepat. Tentu saja, Totto-Chan juga memasukkan tanah basah. Kemudian ia meratakan tanah, menutup kembali lubang itu dengan rapi, lalu mengembalikan gayung kayu yang dipinjamnya ke gudang tukang kebun.


Malam itu, sebelum tidur Totto-Chan teringat dompetnya yang indah dan jatuh ke dalam lubang gelap. Ia sedih karena kehilangan dompetnya, tapi kejadian hari itu membuatnya sangat letih hingga tak lama kemudian ia sudah lelap tidur.


Sementara itu, di tempat kejadian, tanah yang lembab memantulkan cahaya bulan yang indah.
Dan di suatu tempat, dompet Totto-Chan tergeletak dalam sunyi.




sumber : Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela, Gramedia

Jumat, 10 Januari 2014

Fase-fase Perkembangan Kognitif menurut Piaget

Fase-fase Perkembangan Kognitif menurut Piaget

Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perrkembangan selanjutnya. Dengan demikian apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan mendapat hambatan. 

Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam empat fase yaitu fase sensorimotor, fase praperasional, fase operasi konkret dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91)

1. Fase Sensorimotor (usia 0-2 tahun)

Pada masa dua tahun kehidupannya anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya terutama melalui aktivitas sensori (melihat, meraba, merasa, mencium dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik dan aktivitas yang berkaitan dengan sensori tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor.

Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan reflek yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, melihat, melempar dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khusus. Keadaan ini mengandung arti bahwa anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek-aspek yang berkaitan dengan hubungan kausalitas, bentuk dan ukuran, sebagai hasil pemahamannya terhadap aktivitas sensorimotor yang dilakukannya.

Pada akhir usia 2 tahun anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat kompleks seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam, atau meminta), menggunakan sau benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada ditangannya, ia melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empirik.

2. Fase Praoperasional (2- 7 tahun)

Pada fase praoperasional anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolik. Kegiatan simbolik ini dapat berbentuk melakukan percakapan melaui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu dan kegiatan simbolik lainnya. Fase ini memberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional anak tidak berpikir secara operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukannya sebelumnya.

Fase ini merupakan masa permulaan bagi anak untuk membangun kemampuannya dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu cara berpikir anak pada fase ini belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik. Fase praoperasional dapat dibagi ke dalam tiga sub fase yaitu sub fase fungsi simbolik, sub fase berpikir secara egosentris dan intuitif.

Sub fase fungsi simbolik terjadi pada usia 2-4 tahun. Pada masa ini anak telah memiliki kemampuan uuntuk menggambarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. Kemampuan ini membuat anak dapat menggunakan balok-balok kecil untuk membangun rumah, menyusun puzzle dan kegiatan lainnya. Pada masa ini anak sudah dapat menggambar manusia secara sederhana. 

Sub fase berpikir secara egosentris terjadi dalam usia 2-4 tahun. Berpikir secara egsentis ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain. Benar, atau tidak benar, bagi anak pada fase ini ditentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris.

Sub fase berpikir secara intuitif terjadi pada usia 4-7 tahun. Masa ini disebut fase berpikir secara intuitif karena pada masa ini anak kelihatan mengerti dan mengetahui sesuatu, seperti menyusun balok menjadi rumah, akan tetapi pada hakekatnya ia tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun menjadi rumah. Dengan kata lain anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada dibalik kejadian.

3. Fase operasi kongkrit (7-12 tahun)

Pada fase operasi kongkrit kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara kongkrit. Kemampuan berpikir logis itu terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan objek sesuai dengan klasifikasiny, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutnya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif.

4. Fase Operasi Formal (12 tahun sampai usia dewasa)

Fase operasi formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir kongkrit ke cara berpikir abstrak. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis tersebut...


...Dari berbagai sumber

Sabtu, 05 Oktober 2013

Walking In The Jungle















♫ Let's take a walk in the jungle.
Walking in the jungle. Walking in the jungle. [Pretend to move tree branches out of your way as you walk in place.]
We're not afraid. We're not afraid. [Cross your arms in front of your body and shake your head "no".]
Walking in the jungle. Walking in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
One step. Two steps. Three steps forward. [Take three steps forward.]
One step. Two steps. Three steps back. [Take three steps back.]
Stop. [Place both hands out in front of you.]
Listen. [Hold your hand to ear.]
What's that? [Shrug your shoulders and look around.]
It's a frog! [Frog gesture.] 
We're not afraid! [Cross your arms in front of your body and shake your head "no".]

Let's stomp.
Stomping in the jungle. Stomping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
Stomping in the jungle. Stomping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
One step. Two steps. Three steps forward.
One step. Two steps. Three steps back.
Stop. Listen. What's that?
It's a monkey! [Monkey gesture.]
We're not afraid!

Let's jump.
Jumping in the jungle. Jumping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
Jumping in the jungle. Jumping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
One step. Two steps. Three steps forward.
One step. Two steps. Three steps back.
Stop. Listen. What's that? 
It's a toucan! [Toucan gesture.]
We're not afraid!

Let's skip.
Skipping in the jungle. Skipping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
Skipping in the jungle. Skipping in the jungle. We're not afraid. We're not afraid.
One step. Two steps. Three steps forward.
One step. Two steps. Three steps back.
Stop. Listen. What's that?
It's a tiger! [Tiger gesture.] 
RUN![Run away!] ♫

Super Simple songs
Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool
Protected by Copyscape Online Plagiarism Toolion-contents>